Kamis, 26 November 2015

LEPAS GENGGAM



Tak lagi kurindu bayang-bayang indah lukisan itu
Semakin kutatap lekat, semakin buram garis guratnya

Tak lagi kudamba alunan merdu suara itu
Semakin kudengar rapat, semakin samar bunyi dengungnya

Sungguh tak lagi kuingin manis buah yang disemai itu
Semakin tua semakin tidak menentu rasa yang ditawarkannya

Lalu apa?
Beranikah memeluk bayang semu?
Beranikah mendekap angin keruh?
Beranikah mengurai benang lusuh?
bergantung pada tali rapuh?
bersandar pada tiang lepuh?

Kelam
Buram
Lepaskan raga yang tak teguh menggenggam atau melepas ragu





Selasa, 24 November 2015

DI PERSIMPANGAN



Di persimpangan jalan aku berhenti
Menatap dua arah yang belum jelas akhirnya

Di persimpangan jalan aku berhenti
Menunggu

Di persimpangan jalan aku berhenti
Mulai melangkahkan kaki, memilih maju, entah ke arah mana?

Di persimpangan jalan aku berhenti
Apakah harus berbalik arah


Haruskah tetap berada di persimpangan
Menunggu mata angin arahkan jalan?
Atau memilih berjalan, menuruti kemana takdir berkemauan
Atau berbalik arah, berlari seperti pecundang?

Duhai hati
Dapatkah kau yakinkan pemilikmu?
Ya atau tidak?
Jika ya, mengapa tak ada kabar debar disana?
Jika tidak, mengapa selalu ada rindu yang menggebu?

\



Selasa, 10 November 2015

Merinduimu

Aku merinduimu
Merinduimu, lelaki yang cintamu tak habis-habisnya padaku
Merinduimu, lelaki yang menitikkan bulir-bulir asa di depan mereka untukku
Merinduimu, lelaki yang merelakan tubuhmu disayat-sayat masa untuk melindungiku
Merinduimu, lelaki yang menahan perihnya luka, hinaan, cemoohan hanya untukku
Sungguh... Aku merinduimu

Kau tahu, terkadang aku bertanya-tanya, mengapa kau curang padaku
Kau berjanji padaku akan menghadapi dunia bersama-sama
Akan mewujudkan mimpi-mimpiku
Lalu mengapa?
Mengapa tak menungguku?
Setidaknya hingga kukuat dan berani melepaskan diri darimu

Mengapa tak kau katakan padaku?
Siang itu, saat aku mendengar suaramu, mengapa tak kau katakan padaku perih di hatimu, dadamu, perutmu, jantungmu?
Mengapa?
Kau tak ingin aku merasakan sakitnya?

Kau tahu?
Aku marah pada diriku
Aku membenci diriku
Sungguh, aku tak ingin menjadi aku
Seserang yang tak pantas untukmu

Bahkan saat kau terluka pun aku tak disana dan menggenggam tanganmu
Memberimu kekuatan menghadapi "-nya" seperti engkau yang selalu menggenggam tanganku di saat apapun itu
Kau katakan bahwa kau baik-baik saja dan aku begitu bodohnya percaya
Aku bahkan tak sempat meminta sedikit maafmu

Aku merinduimu
Semoga tersampaikan rinduku padamu lewat doa-doa yang kukirimkan untukmu
Namun, kau tahu, aku bukan anak yang sholeh seperti yang mereka katakan
Tersampaikankah doaku padamu?
Padamu ayah? lelaki pertama dan terakhir di hatiku
Aku merinduimu

Senin, 09 November 2015

I GIVE UP


Aku menyerah
Ya, aku menyerah
Aku menyerah

Aku tak bisa menahan api yang berkobar
Setiap kali kau sebut namanya
Setiap kau sebut warnanya
Bahkan aku tak lagi menyukai warna itu, warnanya yang menjadi warnamu

Aku siapa?
Aku bukan siapa-siapa
Lalu dia?
Dia pertama dan terakhirmu 
Lalu apa?
Tak ada apa-apa

Aku menyerah
Aku masih bisa menghapus rasa yang mulai sekental darah
Sulit, sudah pasti
Tapi aku tahu aku bisa
Bahkan yang lebih sulit dari sini sudah pernah kulewati
Aku kuat, kau tahu itu
dan jangan mencobaku

Kau tak tahu apa yang ingin sekali kudengar darimu
Kau tak tahu apa yang terfikir di benakku kala berdiri dekat di sampingmu
Kau tak tahu apa yang kuharap ketika berada di sekitarmu, di belakangmu, menatapmu, dan tertawa bersamamu
Apa aku yang salah mengartikan, atau kau yang plin-plan, atau memang tidak ada apa-apa disana, di hatimu?
Mungkin kau juga akan menyatu dengan masa lalumu yang menjadi masa depanmu
Aku menyerah


 

Jika Kau yang Meminangku



Jika kau yang meminangku
Tak akan kupinta emas permata
Tak akan kuminta uang yang berlimpah
Tak kuharap rumah mewah
Tak kurindu hidup bergelimang harta

Kau tahu mengapa?
Aku tak pernah terbiasa dengan kemewahan itu
Aku tak terbiasa dengan ke-berkecukupan itu
Lalu apakah aku tidak ingin?

Aku ingin
Ya aku ingin

Tapi jika kau yang meminangku
Cukuplah lantunan ayat yang kau bacakan untukku
Cukuplah kau jadi imamku
Cukuplah sholat yang selalu kau jaga itu
Cukup wajah teduhmu, senyum manismu, tawa candamu
Maka tentu akan lengkap duniaku

Jika kau yang meminangku
Kau yang selalu hadir dalam doaku
Tak akan kupinta apapun
Selain yang kau ikhlaskan padaku

Namun, Jika Allah tidak menakdirkan kau untukku dan aku untukmu
Aku berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu dan untukku
dan kita dipertemukan dalam ikatan yang lebih indah
Aku siap untuk hal terakhir itu
Percayalah, sesuatu yang baik akan dipertemukan dengan yang baik juga
dan begitulah sebaliknya

:)

Selasa, 03 November 2015

Abu-abu



Kelam semakin gigil, menyusup dan melekat pada hening dinihari
Secangkir rindu yang tak susut disesap waktu mengepul dalam bisu
Semakin larut, semakin pekat, semakin dalam, dan semakin jatuh
Terhempas dan terperangkap, terikat dan melekat, sulit untuk lekang lagi

Ahh,, aku yang salah bermain dengan api
Aku yang membakar diri
Tali mana tali? tak ada jalan untuk kembali

Tunjukkan aku terang bumi
Ucapkan hitam atau putih
Jangan lagi beri abu-abu yang membuat ragu




Jumat, 30 Oktober 2015

Lika-liku 2015


Sungguh banyak sekali yang ingin kutuang dan kukemas rapi di  bilik-bilik rindu malam ini. Tentunya tentang hidupku yang Allah bolak-balikkan garisnya di tahun ini, 2015. Tahun ini mungkin adalah tahun yang tak akan lekang dari ingatanku, yang akan terus membayangi langkahku, yang akan menjadi dasar apapun yang akan aku lakukan nantinya. Aku tak tahu harus memulainya darimana, tapi akan kuceritakan hal-hal yang membuatku tak akan pernah melupakan tahun ini.
Tahun dimana Allah mengingatkanku, Allah mengajariku, Allah menegurku, Allah merangkulku, Allah mengujiku, dan Allah memberikan hadiah-Nya padaku.

Akhir 2014, Aku masih menikmati fase istirahat setelah 1 tahun berjuang mencerdaskan anak bangsa di bumi Indonesia, Anambas Kepri, dalam program SM3T. Selama masa libur, entah karena tak terbiasa duduk diam saja, atau karena terlalu lama libur, aku mulai merasa tak tenang jika berlama-lama di rumah.  Aku berusaha membunuh jenuh di masa-masa istirahat itu dengan berbagai kegiatan yang membuatku sibuk, mulai dari mengikuti tes CPNS, mengadakan perayaan lomba antar sekolah se-TEPSEL untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, mengajar Geografi di SMA N 1 Tepsel, dan tentunya bergelut dengan aroma padi di sawah. Kegiatan-kegiatan itu yang menyita waktu siang dan malam. Selain itu, acapkali bahkan hampir setiap malam, murid-muridku dari seberang sana menelepon dan bercerita tentang riak lautnya yang dulu sering kunikmati jernihnya. ada jualah pengobat rindu dan teman berbincang-bincang kala malam menyapa.

18 Januari,  Allah memberikan kebahagiaan dalam hidupku dengan menghadirkan putri kecil dalam keluarga kami, yakni keponakanku yang pertama dari pasangan kakanda tertua Asfarina dan brother Ahmad Kusnanto. Sungguh, putri kecil dengan bibir mungil itu adalah gadis yang cantik sekali. Aku sangat menyayanginya, tapi ternyata Allah jauh lebih mencintainya. Allah kembali mengambil titipannya pada 23 Januari, lima hari setelah kelahiran gadis cilik itu. Saat itu, Allah berikan kesedihan dan kebahagian pada waktu bersamaan. 23 Januari adalah hari pengumuman kelulusan CPNS. Allah mengambil gadis cilik yang sudah begitu lekat di hatiku dan Allah memberikan  kelulusan CPNS padaku. Semua orang menyalamiku, mengucapkan belasungkawa dan sukacita sekaligus. Aku pun berduka dan bersyukur.

Kelulusan CPNS bukanlah sesuatu yang kutargetkan di tahun ini. Aku memang tak menyangka, karena hanya berniat uji-coba. Peluang hanya 1, dan aku tak menyangka akulah yang 1 itu. Kebahagianku semakin lengkap karena sahabat terbaikku, Husnawati juga lulus. Ia adalah teman seperjuangan yang membuatku kuat melewati sebagian fase-fase kehidupanku.

Februari Allah membuatku bimbang dan harus memilih karena aku harus segera mengikuti Program Profesi Guru sebagai lanjutan dari SM3-T. Pilihannya adalah menunggu SK atau lanjut PPG berasrama untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Aku mulai bimbang karena keinginan untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi selalu berkobar dalam darahku. Terbayang gelar S.Pd.Gr. yang menantiku dan tentunya pengalaman dan kebersamaan dengan teman-temanku. Aku bertanya sana-sini, banyak yang mendukung untuk tetap menjalankan PPG dan banyak juga yang menyuruhku meninggalkannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba, apapun hasilnya.

Maret 2015 Kutinggalkan pulauku dengan perkiraan aku akan kembali dalam waktu dekat karena tentunya SK tak akan lama keluarnya. Kuberanikan diri bersama tiga rekan lainnya, Yuan Nadia, Bang Mukhlis Erdian dan Bang Safaruddin yang juga lulus bersamaan denganku. Merekalah yang membuatku yakin untuk tetap melangkah. Allah ternyata memberikan kesempatan padaku untuk menyelesaikan workshop perangkat pembelajaran mulai dari siklus 1 hingga siklus 6 dalam kurun waktu Maret-July. Mengijinkanku mengikuti berbagai kegiatan Asrama dan melancong ke tempat-tempat yang belum kukunjungi sebelumnya.

Akhir Juli 2015 aku kembali ke kampung halaman untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga. Masa-masa inilah yang tak pernah kulupakan. Masa dimana keluargaku masih lengkap, Masa dimana aku masih bisa melihat senyum Ayahanda tercinta. Masa-masa bahagia bersama keluarga dan teman-teman tercinta. Ingin kuputar berulang-ulang suasana di bulan ini, seandainya saja bisa. Ingin kunikmati setiap momentnya. Tak akan kubiarkan semenit pun terbuang percuma. Namun,bulan-bulan berikutnya sudah menunggu untuk dijejaki helainya.

Agustus 2015, kami harus mengikuti Kursus Mahir Dasar dan aku tak berhasil mengikutinya karena virus Varicella. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku terkena cacar air. Cacar yang akhirnya meninggalkan jejaknya di wajahku. 18 Agustus, dengan wajah yang masih dipenuhi bekas cacar, aku terpaksa mendatangi SMA 5 Banda Aceh untuk mengikuti PPL PPG. Rumit sekali perjalanan menuju SMA 5 ini karena aku harus dioper dari SMA Lab School Unsyiah ke SMA 2 N Unggul Boarding School, hingga akhirnya jatuh di SMA 5 Banda Aceh. 31 Agustus siang, ayahanda meneleponku, menanyakan kabar dan membicarakan perihal adik-adikku. Lalu, malamnya tepat pukul 02.00 dinihari seseorang menghubungiku, mengabarkan bahwa ayahku masuk rumah sakit dan kami harus segera berangkat ke Nagan Raya.

Selasa, 1 September, setelah berdiskusi dengan keluarga, aku memutuskan (keputusan yang sangat kusesali) agar adikku saja Faisal Hidayat yang berangkat dahulu. Aku belum bisa berangat karena masih harus menyelesaikan pendaftaran ulang adikku Rostinauli. Rabu 2 September, kondisi ayah masih belum pulih dan harus dioperasi. Ayah pun dioperasi dan kekurangan banyak darah. Adikku mencari donor darah kesana kemari atas perintah dokter. Anehnya, setelah pendonor ada, donor darah sama sekali tidak dilakukan. Kamis, 3 September ibunda tiba di Nagan Raya, kondisi ayah mulai membaik. Ia sadar dan sempat mengatakan bahwa ayah baik-baik saja dan hendak minum susu karena saat itu ayah belum bisa makan nasi, jadi hanya diberi susu padat. Ayah mengatakan bahwa ia sudah sehat dan aku tidak perlu khwatir.

Sabtu, 5 September, Ibunda menelepon dan memintaku banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan ayah karena ayah kembali kritis. Aku panik dan sangat takut kehilangan ayah. Tanpa pikir panjang aku segera berangkat ke Nagan Raya. Namun, di pertengahan jalan Gurute-Calang, adikku mengabarkan berita yang membuat lemas seluruh sendi tubuhku.

Ayahanda pergi, tanpa menungguku, tanpa memberiku kesempatan untuk mencium kakinya dan meminta maaf atas kesalahanku, tanpa memberiku kesempatan menorehkan sedikit kebahagiaan dalam hidupnya. Allah mengujiku, Allah mengujiku dan itu adalah ujian terberat bagiku.Aku berfikir aku tidak akan mampu melewati saat-saat itu, aku hampir gila memikirkan bahwa aku tidak akan dapat lagi melihat senyum dan tawanya. Aku menyesal sekali tidak berangkat saat ia masih belum kritis. Sepanjang jalan, aku terus menerus membaca Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Aku berusaha keras mengingat pesan bahwa aku tidak boleh menangis jika tak ingin ayahku tersiksa. Aku pun berusaha mengingat bahwa Allah mengatur segalanya, bahkan daun pun tidak akan jatuh tanpa seijin Allah. Dadaku sesak sekali saat itu, air mataku, sekuat apapun kutahan tetap mengalir. Aku berusaha ikhlas dan memohon kekuatan di setiap sholat sepanjang perjalanan itu, hingga aku melihat ambulans yang terparkir di kapal Ferry. Ambulans yang menyadarkan bahwa aku tidak sedang bermimpi dan aku benar-benar kehilangan ayah.

Aku tidak tahu darimana kekuatanku, tapi aku mampu melewatinya dengan tabah. Aku bisa berdiri di hadapan orang banyak yang silih berganti berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa. Aku mampu memandikan ayah, memeluk tubuhnya untuk terakhir kalinya, mensholatkannya, menguburkannya, dan berdiri di hadapan semua yang menghadiri pemakamannya sebagai sosok yang tegar dan meminta maaf atas segala kesalahan ayahanda pada mereka.

Selama tujuh hari, aku tetap berada di samping ibunda, menguatkannya dan membantu dengan segala daya upayaku untuk menyelesaikan segala urusan hingga malam ke-7. Malam ke-8 aku kembali ke Banda Aceh. Teman-temanku di asrama kembali merangkulku, mengalirkan kebahagian padaku.

Idul Adha, mereka membawaku ke kampung halaman mereka, Bireun dan mengajakku menikmati kota itu hingga ke Lhoksemawe. Di sana aku sedikit demi sedikit mengumpulkan lagi asaku yang sempat pupus bersama kepergian ayah. Rabu, 30 September pihak BKD meneleponku. Allah kembali mengejutkanku. SK CPNS akan diserahkan pada hari Kamis dan aku wajib menghadirinya. Aku kembali kalang kabut dan Allah mengirimkan sahabatku Nur Sahyuni untuk menemani perjalananku kembali ke kampung halaman.

1 Oktober2015 bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila, secara resmi aku dan 61 (yang saat itu hadir) teman lainnya, resmi dilantik sebagai CPNS. Aku kembali disibukkan dengan berbagai urusan administrasi dll. terkait dengan status CPNS. Mulai dari latihan PBB, pengurusan SPT, dll. Aku ditempatkan di SMP N 6 Teupah Selatan. Disana sahabatku Hendi Kaslima menunggu. Hampir 3 Minggu aku meninggalkan sekolah PPL PPG-ku. Sahabat-sahabat PPG terus mendukung dan mengambil alih semua tanggung jawabku selama pengurusan SK tersebut. Akhirnya, dengan berbagai usaha dan doa serta dukungan teman-teman dan keluarga, hari ini 31 Oktober, Aku masih duduk di asrama PPG Unsyiah untuk menyelesaikan PPL.

Aku masih belum bisa meraba apa yang akan terjadi ke depan. Aku hanya berusaha meyakinkan diri bahwa Allah selalu ada untukku dan mengirimkan berbagai pertolongannya melalui tangan-tangan orang baik di sekelilingku. Aku masih belum tahu apakah aku bisa menyelasikan PPG ini atau tidak, aku tidak tahu apakah status CPNS-ku mampu kuubah menjadi PNS atau tidak. Aku tidak tahu apakah aku bisa membantu menyelesaikan tanggung jawab terhadap kuliah kedua adikku atau tidak. Aku tidak tahu sejauh mana Allah memberiku kesempatan untuk tetap bernapas. Aku tidak tahu dan tak berani memikirkannya terlalu jauh. Aku hanya berharap, Allah memberikan kesempatan padaku untuk melakukan yang terbaik bagi keluargaku, terutama kepada ibunda tercinta. Aku tidak tahu, seberapa lama lagi aku bisa merasakan kasih sayangnya. Aku selalu berdoa agar Allah memberinya kesehatan, memberikanku lebih banyak waktu untuk melukis kebahagiaan di wajahnya yang renta.

Semua yang kualami pada tahun ini membuatku sadar bahwa Allah sudah mengatur skenario hidupku. Allah mengujiku dan ujian itu membuatku lebih dewasa.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”. (QS. Al-Baqaroh : 155-157).

Satu hal yang sangat aku syukuri hingga saat ini, yakni Allah berikan sahabat-sahabat terbaik padaku. Sahabat yang senantiasa siap menolongku kapan pun aku butuh. Sahabat-sahabat yang begitu ringan tangannya memberikan pertolongan padaku, yang begitu hangat tangannya dalam merangkulku, yang begitu merdu suaranya untuk menghibur dan menasehatiku, yang begitu nyaman bahunya untuk jadi sandaranku. Aku merasa sempurna bersama mereka.

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban 
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?