Sabtu, 26 Desember 2015
Rabu, 23 Desember 2015
Kepala Batu

Ingin rasanya kujitak kepala batumu itu berkali-kali
Kuantuk-antuk pada dinding rindu agar kau mengerti
Kau ingin aku seperti dia?
Tak akan!
Kau mau aku ikuti gayamu, nerimo, menunggu, pasrah
Tak ada jiwa juang dalam darahmu
Kau ingin instan? Kau pikir kau siapa?
Silahkan menunggu
Aku tak akan datang padamu
lalu kau hanya akan berkata
Tidak apa-apa semua sudah digariskan oleh-Nya
Kau mau menunggu hingga rasa ini terkikis habis?
Silahkan
Atau kau menunggu hingga mereka berhasil merebutnya darimu?
Silahkan
Kau tahu,aku sungguh tak perduli karena kepedulianku juga tak kau mengerti
Atau sebenarnya memang tak ada niat dalam kalbumu
yang terakhir ini yang mungkin bisa kupahami
Silahkan menjauh, sejauh mungkin, tempatkan dirimu sebagai dulu
Jumat, 18 Desember 2015
Bening
Kau lihat air bening itu dik?
Ia tak selamanya akan bening
Ada kalanya ia keruh karena hujan yang terlalu deras malam tadi
Atau membuih jika dasarnya bergolak karena gempa di jantung bumi
Pernah juga ia menghitam pekat karena limbah industri
Dan sekali-kali menghijau saat disengat matahari karena terlalu banyak plankton mengerubungi
Dik kau lihat air bening itu?
Pernahkah kau lihat ia menangis?
Kau tahu Dik, ia tak selalu mengalir tenang
Terkadang tangisnya pecah dihempas bebatuan karang
Raungnya akan kau dengar di ujung-ujung jurang
Terkadang ia hanya sesenggukan meradang
tersedu-sedu di balik batang-batang kayu tumbang
Ahh..
Dik, kau lihat air bening itu?
Maukah kau menjaganya untukku agar tetap bening?
Setidaknya jangan kau biarkan ia terlalu lama keruh
karena keruh akan membawa rapuh
Senin, 14 Desember 2015
Not You, Maybe!

Kubaca tatap matamu
Kueja senyummu
Kubilang tawamu
Kucari-cari jawab tanyaku di sela-sela rambutmu
Tak jua bertemu
Apakah aku gila oleh ilusi
kucubit lagi pipiku, tak sakit!
jadi ini semu?
Aku tak merasakan apa-apa? Bahkan getar"a?
Apakah ini bukan cinta?
Kutatap lagi si pemilik mata mencoba tersenyum yang dibalas senyum
tapi, tak ada getar disini, sama seperti sebelum-sebelumnya
Aku ternyata salah!
Sama sekali tidak ada apa-apa disini!
Tak ada!
Maaf jika terlalu lama menyadarinya
Kau tak pernah ada disini
Coklat?
Malam itu, ada biru dalam putih
tersenyum manis dan abadi sebagai pemain inti
dari sela-sela figuran ia menatapku garang dan bertanya "Kau siapa?"
Aku terdiam, beralih melepas putih
Malam itu, ada coklat dalam sebungkus jingga
Erat-erat kudekap, kuabadikan dalam berbagai pose, lalu kulepas
Coklat itu mungkin suatu saat akan pudar, akan hilang bentuk, remuk
Kutatap lagi, apakah aku yakin akan melepasnya?
Kutimbang dan kurasakan lagi setiap permukaannya
Kutelusuri setiap jengkal dalamnya
Lalu tanyaku terjawab
Tak akan ada merah jambu di antara susu putih dan secangkir kopi coklat
Sabtu, 12 Desember 2015
Ayah, Desember Datang Lagi!!

Dear Ayah..
Ayah..
Desember datang lagi
Tapi, datangnya tak seperti biasa
Dulu jika datang, ia pasti menyentil hidungku manja
Lalu berkata, kamu semakin dewasa ya,
Kamu mau kado apa?
Ayah, Desember datang lagi
Tapi kali ini berbeda ayah
Ia datang bersama luka
Sungguh Ayah
Aku tak pernah ingin dikunjungi Desember ini
Aku tak pernah ingin ada 2015 di hidupku
Ayah..
Desember datang lagi
Tapi kali ini ia menamparku ayah
Ia menyakitiku
Ia keras-keras berteriak padaku bahwa kini aku sendiri
Ayah..
Desember datang lagi
tentu tanpa menunggu ucapan ulang tahun yang tak pernah alpa kau nyanyikan untukku
Ayah
Desember datang lagi, dan aku tahu aku harus mengahadapi sakit ini
Sakit yang terus menerus datang sejak September itu
Ayah
Desember datang lagi mencekikku
Ia tak lagi baik ayah, ia tak lagi merangkulku manja
Ayah
Desember datang lagi
Aku hanya ingin engkau
Aku hanya ingin engkau di Desember ini ayah
Aku tak pernah ingin apa-apa
Aku tak mau mengharapkan apa-apa
Aku hanya ingin kau ayah
Ayah
Aku tak tahu harus berapa kali lagi kuucapkan
Desember datang lagi
dengan luka yang tengah kujahit dan kuobati ayah
Tapi ia tak kunjung sembuh
Ayah
Desember datang lagi dan kau ingin aku kuat?
Aku kuat ayah, aku bahkan tak menyangka aku sekuat ini
Ayah
Desember datang lagi
Ia akan terus datang hingga aku bertemu denganmu
entah kapan
Ayah ini Desember dan aku merindukanmu
Selalu ayah :(
Sabtu, 05 Desember 2015
Run

Sejauh apa pun berlari tetap kan kembali
Sejauh apa pun menghindar tetap akan terkenang
Lagi siluet biru dalam dekapan membayang
Tersenyum bahagia menatap masa depan
Lalu aku?
Ada anak kecil disana
Membayangi langkah gerak-gerik tawa
Ada senyum teduh di ujung dapur
Bersiap menghidangkan cinta nan subur
Masih disini, menghapus debar-debar
Menghujam kuat-kuat getar
Lelah sudah berlari, lelah sudah berpaling
Lelah sudah berusaha berlabuh
Namun tak jua dapat berteduh
Waktu semakin dekat, dimana tak bisa lagi menghindar
Terpaksa dan dipaksa menatap sakit itu
Mendekap rindu yang meggebu, tapi untuk siapa?
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Salam dan bahagia Bapak/Ibu guru hebat di seluruh penjuru dunia, kali ini izinkan saya untuk menyampaikan sebuah rangkuman atau koneksi dari...
-
Lelah mulai bergelayut manja di sendi-sendi tulang Tiarap di ubun-ubun karang Menelentang di bawah kabut petang Hanya saja, belum bol...
-
https://www.canva.com/design/DAGDJnEeHQw/idwtCqMBE8OlEtlqVpAFgQ/edit?utm_content=DAGDJnEeHQw&utm_campaign=designshare&utm_medium=lin...


